Senin, 12 Mei 2014

Kepada Tuan Yang Telah Pergi

Sudah berapa lama kita tidak berjumpa? Aku tidak tahu persis kapan terakhir kita bertemu. Tapi aku masih ingat persis bagaimana aku mengejarmu dulu. Perpisahan yang tidak pernah aku inginkan, membuat aku sangat terpukul dulu. Hari ini, ditempat ini aku memulai semuanya. Memulai kisah baru yang walaupun masih ada sepucuk rasa yang sulit dihilangkan. Sekitar september kita bertemu pertama kali. Mungkin 4 tahun lalu. Ya.. mungkin hanya aku yang mengingatnya. 4 tahun aku hanya mengangumimu dari jauh. Tanpa bisa menyentuh dan menyapa.




Tuan, andai kamu tahu. Setiap ada kesempatan kita bertemu, aku tak pernah menyianyiakannya.  Setiap ada kesempatan menemuimu, aku selalu menyiapkannya dengan matang. Mulai dari pakaian sampai riasan wajah.  Saat kita bertemu, rasanya aku ingin menghentikan waktu. Aku ingin lebih lama menatapmu, bercakap denganmu dan sesekali bercanda. Tanpa sadar, Tuan telah dimiliki. Dan aku hanya bisa menatapmu dalam mimpi.

Kalau tuan tahu, aku sering berkhayal tentang masa depanku denganmu. Aku membayangkan kita berjalan bersama, bergandeng tangan, berpelukan dan mungkin sesekali bercumbu. Tapi, kenyataan hari ini membuat seluruh khayalan itu hanya sebuah khayalan. Mungkin, Tuan sedang merajut masa depan dengannya, dan aku hanya terus dan terus berkhayal dan mengingat kembali setiap pertemuan kita. Andai tuan tahu bagaimana perasaanku, rasa ingin memiliki tuan. Tapi, aku ini siapa? Aku hanya gadis biasa yang hanya dalam diam mengagumi dan mendoakanmu agar kelak kamu bisa bersamaku. Apadaya, ternyata bukan aku pilihanmu.

Aku tak punya nyali untuk mendekatimu. Aku hanya bisa mencuri kabarmu lewat social media yang Tuan mainkan. Barangkali, ada sebuah kabar baik disana. Aku pengecut dalam hal cinta. Seandainya cinta tak perlu diucapkan, mungkin rasanya tak sesulit ini mendapatkanmu.

Sambil mendengarkan lagu Elliot Yamin – Wait for you. Sepenggal liriknya, “baby I’ll wait for you. Cause I don’t know what else I can do. I really need you in my life, no matter what I have to do I'll wait for you”. Lagu ini seolah mengutarakan apa yang aku rasakan pada tuan. Seseorang yang akan selalu menunggu sampai kapanpun. Namun, seharusnya tak seperti itu. Kehidupan harus terus berjalan. Aku tak bisa terus terpaku pada satu pintu. Masih banyak pintu yang terbuka untukku.

Tuan, masih dengan salah satu mimpiku. Aku hanya ingin menikmati senja di pantai bersama tuan. Sambil merasakan hembusan angin laut dan hilir ombak. Menanti malam dan menyambut pagi bersama. Walaupun sudah sejauh ini aku melangkah, tapi asal tuan tahu aku tak pernah sedikitpun merasa lelah karena harus melangkah sendiri. Bumi ini berputar. Disaatnya nanti, kita akan dipertemukan kembali. Dan aku masih dengan cinta yang sama.

sumber gambar : http://health.kompas.com/read/2013/03/23/1003458/Menjelajahi.Dua.Sisi.Pantai.Pasir.Perawan

Tidak ada komentar: