Kamis, 15 Mei 2014

Saya Pergi. Maafkan.


Untuk kamu, saya menulis ini hanya ingin mengutarakan segala sesuatu yang selama ini saya tahankan. Pertama-tama , saya minta maaf ya. Saya selalu membuatmu risih dengan segala keegoisan saya, sifat manja saya yang membuat kamu kesal. Saya tahu betul kamu sebenarnya sudah tidak betah kan sama saya? Tenang... saya sebentar lagi akan pergi ketika saya yakin kamu sudah bahagia dengan duniamu. Maksud saya bahagia dengan duniamu adalah, ketika kamu sudah mendapatkan  segala sesuatu yang kamu inginkan dan kamu butuhkan.


Jujur, saya sangat ingin pergi. Bukan karena saya menyerah. Saya hanya tak mau berlama-lama membuatmu susah. Saya tak mau semakin lama kau bersama saya, semakin lama juga kamu menderita. Saya hanya tak mau menjadi penghalang langkahmu. Saya tak mau karena saya, semua yang kamu kejar menjadi berantakan karena harus meladeni saya. Tapi sekali lagi, ini takkan lama.

Sebenarnya, saya belum sepenuhnya rela melepaskanmu. Tapi saya sadar, semua ini akan berakhir. Apapun yang kita pertahankan, saat waktunya tiba Tuhan akan ambil. Semakin lama saya menggenggammu, semakin lama juga perasaan ini terombang-ambing dengan penolakan secara tidak langsung darimu. Karena saya tahu, pada akhirnya kamu tak akan kembali memeluk saya. Yah.. beginilah kelakuan gadis bodoh ini. Masih berharap kamu masih sungkan menjadi teman saya. Teman seperjalanan yang kini sudah menemukan jalannya sendiri.



Tapi, cinta tak harus memiliki kan? Mungkin dengan saya melepasmu, kamu bisa bahagia. Saya ingin kamu bahagia. Sungguh. Meskipun kenyataannya, saya tak bisa memberikannya untukmu. Walau sebenarnya saya bahagia bersamamu. Biarlah. Karena bahagiamu, bahagia saya juga. Percayalah.

Sebentar lagi, kamu akan terbebas dari seorang pengganggu ini. Tapi, bukan berarti saya tak menyayangimu lagi. Sebenarnya, saya tak benar-benar pergi. Saya hanya tahu diri, kalau kamu akhir-akhir ini memberikan sikap-sikap yang menunjukkan kalau kamu ingin lepas. Saya minta maaf kalau aku baru peka sekarang.

Saya tak pernah sedikitpun merasa kecewa terhadapmu. Walau kamu sering acuh kepada saya. Kamu sering meninggalkan saya seharian. Dan tak jarang kamu bersikap dingin. Tapi saya menikmatinya. Saya menikmati setiap waktu denganmu. Karena saya selalu yakin, kamu pasti sayang sama saya. Saya masih ingat mimpi-mimpi kita dulu yang kita ingin wujudkan bersama. Tapi kejadian akhir-akhir ini sudah menghancurkan mimpi-mimpi itu.


Andai kamu tahu, saya tak benar-benar pergi. Saya masih terus menunggu. Walaupun kamu tak pernah menyuruh saya menunggu, tapi kamu pernah menyuruh saya untuk tinggal dalam hatimu dan jatuh cinta sedalam ini. Sekali lagi maafkan saya yang terus-terusan merepotkanmu. Yakinilah, walaupun saya menghilang, sebenarnya saya masih disini.

sumber gambar :http://retakankata.com/2012/02/14/jika-saat-perpisahan-harus-tiba/

Tidak ada komentar: