Minggu, 27 April 2014

Akan menetap walau diminta pergi

Aku kemarau. Aku yang selalu datang rutin menggantikan hujan. Hai bumi, apakah kamu menyambut kedatanganku di musim ini? Bumi , memang ada masanya aku datang dan ada masanya aku pergi. Tapi jika kamu tau, aku tak benar benar pergi saat kamu mengira aku menghilang. Aku tak benar benar berhenti saat malam memintaku pulang. Dan aku tak benar benar menyerah saat kau kira terikku tak ada.  Kamu tahu bumi, aku selalu merindukan mu. Aku selalu tak sabar untuk menyapamu. Ya.. memang ada masanya aku menunggu. Aku harus sabar karena nanti saatnya aku datang.  Kamu tau? Aku sangat cemburu ketika hujan datang memberikanmu kesejukan. Diam- diam aku selalu memperhatikan keadaanmu, bumi.  Aku selalu ingin datang walau matahari masih membiarkan hujan mendampingimu.

Bumi, mungkin kadang aku egois. Saat kamu sedang bersenang-senang dengan hujan, aku tiba-tiba datang dan merusak kesenanganmu. Bukan.... bukan aku ingin merusak. Tapi aku sudah tidak sanggup lagi menahan cemburuku kepada hujan. Kamu tidak tahu itu kan?. Ya... aku memang selalu menyembunyikan tangisku dibalik awan. Menurutku, walaupun aku menangis, kau takkan perduli. Sebenarnya, aku ingin tak ingin hujan tercipta. Hanya aku saja yang menjadi temanmu. Tapi, kalau terus terus datang, aku takut mengganggumu. Kamu tahu bumi, sesungguhnya aku tak pernah lelah menyayangimu dan menunggumu. Bahkan aku tak pernah mau menunjukkan seberapa sakit hatiku karenamu. Aku tetap berusaha menahan.  Kadang, jika sakit hatiku begitu parah, kau memarahiku karena aku telah membuatmu kerontang. Maafkan aku. Tak ada maksud sebenarnya. Hanya aku tak tahu lagi dimana aku harus menumpahkannya. Tapi, dibalik kemarahanmu, aku tahu sebenarnya kamu merindukanku. Tapi aku sadar,kamu lebih menyukai hujan. Aku berusaha membiarkanmu bahagia bersama hujan. Namun aku tak bisa. Aku selalu menginginkanmu. Aku tak bisa membiarkan hujan memberimu kebahagiaan. Ya. Aku sangat egois. Namun dalam cinta, keegoisan juga perlu kan? Bukan... ini bukan semata obsesiku mendapatkanmu. Hanya saja perasaan cintaku terlalu dalam padamu, bumi. Sehingga aku tak bisa membiarkan hujan membahagiakanmu.  Maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu risih, bumi. Aku tak ada maksud mengganggumu karena kehadiranku. Hanya saja aku terlalu cinta padamu. Aku yang tak bisa melihat musim yang lain yang memberiku cinta. Selama aku masih bisa menunggu, aku akan terus menunggu. Walau aku tahu , sebenarnya kamu hanya menantikan hujan. 

2 komentar:

Anonim mengatakan...

sadisss....bertepuk sbelah tangan yah

Lidia Lestarri Sibuea mengatakan...

engga, cuma iseng haha